BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Budaya
atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang
merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai
hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa
inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata latin Colere,
yaitu mengolah atau mengerjakan sebagai ”kultur” dalam bahasa Indonesia.
Definisi
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah
kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya tebentuk dari
banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat,
bahasa, pakaian, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan
bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung
menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha
berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan
perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.
Budaya
juga dapat diartikan sebagai suatu pola hidup menyeluruh , budaya bersifat
kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan prilaku
komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan
sosial manusia. Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang
koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya
meramalkan perilaku orang lain.
Kebudayaan
Indonesia bisa diartikan seluruh ciri khas suatu daerah yang ada sebelum
terbentuknya nasional indonesia, yang termasuk kebudayaan Indonesia itu adalah
seluruh kebudayaan lokal dari seluruh ragam suku-suku di Indonesia.
B. Rumusan Masalah
Salah
satu kebudayaan yang harus dilestarikan di Indonesia adalah batik. Sejak
Malaysia pernah mengklaim bahwa batik berasal dari Malaysia, barulah bangsa
Indonesia tersadar dari mimpinya bahwa batik harus segera dilestarikan kembali
keberadaannya. Dan sejak saat itu banyak motif batik bermunculan kembali bahkan
sudah menjadi tren kalau batik merupakan pakaian khas bangsa Indonesia. Bahkan
oleh UNESCO telah ditetapkan bahwa batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk
Budaya Lisan dan Nonbendawi sejak 2 Oktober 2009.
Apa
itu batik, mengapa batik harus dilestarikan dan bagaimana batik bisa menjadi
suatu kebudayaan yang ada di Indonesia akan dibahas satu persatu dalam makalah
ini.
C. Tujuan
Penulisan
makalah ini bertujuan untuk menambah pengetahuan tentang kebudayaan, terutama
tentang sejarah batik tradisional Indonesia, mengetahui jenis-jenis batik
berdasarkan gologannya masing-masing dan mengetahui cara pembuatan batik tulis.
Serta diharapkan agar warga indonesia mencintai dan melestarikan kebudayaan
batik. Sehingga batik yang ada diIndonesia terus berkembang dan diakui
keberadaannya di seluruh dunia
.
BAB II
KERANGKA TEORI
Batik
merupakan kebudayaan khas bangsa Indonesia yang sudah ada sejak masa kerajaan
majapahit. Untuk lebih memantapkan pemahaman kita tentang batik, ada baiknya
kita tahu tentang sejarah batik Indonesia. Batik secara historis berasal dari
zaman nenek moyang yang dikenal sejak abad XVII yang ditulis dan dilukis pada
daun lontar. Saat itu motif atau pola batik masih didominasi dengan bentuk
binatang dan tanaman. Namun dalam sejarah perkembangannya batik mengalami
perkembangan, yaitu dari corak-corak lukisan binatang dan tanaman, beralih pada
motif abstrak yang menyerupai awan, relief candi, wayang beber dan sebagainya.
Selanjutnya melalui penggabungan corak lukisan dengan seni dekorasi pakaian, muncul seni batik tulis seperti yang kita kenal sekarang ini. Khasanah budaya Bangsa Indonesia yang demikian kaya telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisioanal dengan ciri kekhususannya sendiri. Misalnya batik Pekalongan, Yogyakarta, Solo ataupun daerah-daerah lain di Indonesia memiliki corak atau motif sesuai dengan kekhasan daerahnya.
Dalam
perkembangannya, kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan selanjutnya
meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu
senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluargaistana,kemudian
menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria.
BAB III
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Kerajinan
batik ini di Indonesia telah dikenal sejak zaman Majapahit dan terus berkembang
hingga kerajaan berikutnya. Meluasnya kesenian batik menjadi milik rakyat
Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad XVIII atau awal abad
XIX. Batik yang dihasilkan ialah batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap
dikenal baru setelah usai Perang Dunia I atau sekitar 1920. Kini batik sudah
menjadi bagian pakaian tradisional Indonesia.
Batik
adalah salah satu cara pembuatan bahan kain. Selain itu batik bisa mengacu pada dua hal. Yang
pertama adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam, teknik ini
adalah salah satu bentuk seni kuno yang berguna untuk mencegah pewarnaan
sebagian dari kain. Dalam literature
Internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing. Pengertian
kedua adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan
motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. Batik Indonesia, sebagai
keseluruhan teknik, teknologi, serta pengembangan motif dan budaya yang
terkait.
Batik juga termasuk jenis kerajinan yang
memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia
(khususnya Jawa) sejak lama. Perempuan-perempuan Jawa di masa lampau menjadikan
keterampilan mereka dalam membatik sebagai mata pencaharian, sehingga di masa
lalu pekerjaan membatik adalah pekerjaan eksklusif bagi kaum perempuan.
Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik
otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai “Batik Cap dan Batik
Cetak”, yang memungkinkan masuknya laki-laki ke dalam bidang ini. Pengecualian
bagi fenomena ini, yaitu batik pesisir yang memiliki garis maskulin seperti
yang bisa dilihat pada corak “Mega Mendung”, dimana di beberapa daerah pesisir
pekerjaan membatik adalah lazim bagi kaum lelaki. Sementara batik tradisional
yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam
disebut batik tulis.
Tradisi membatik pada mulanya merupakan tradisi yang
turun temurun, sehingga kadang kala suatu motif dapat dikenal berasal dari
batik keluarga tertentu. Beberapa motif batik dapat menunjukkan status
seseorang. Bahkan sampai saat ini, beberapa motif batik tradisonal hanya
dipakai oleh keluarga keraton Yogyakarta dan Surakarta.
B.
Sejarah Batik indonesia
Sejarah
batik yang tepat tidak dapat dipastikan tetapi artifak batik berusia lebih 2000
tahun pernah ditemui. Dari manapun asalnya, hasil seni ini telah menjadi
warisan peradaban dunia. Jenis corak batik tradisional tergolong amat banyak,
namun corak dan variasinya sesuai dengan filosofi dan budaya masing-masing
daerah yang amat beragam. Khas budaya Bangsa Indonesia yang demikian kaya telah
mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisional dengan ciri
kekhususannya sendiri.
Pemakaian
batik dalam busana tradisi mempunyai sejarah yang lama berlangsung dari zaman
awal tamadun Melayu. Dipakai oleh semua golongan, dari raja ke bangsawan sampai
rakyat jelata, batik menzahirkan dirinya sebagai seni asli yang praktikal dan
popular. Dalam tradisi penulisan kain cindai misalnya disebut dalam banyak
hikayat-hikayat silam. Batik menjadi hadiah perpisahan dan perlambangan cinta
dalam hikayat Malim Demam dan dijadikan tanda penganugerahan derajat dalam
Hikayat Hang Tua.
C.
Perkembangan Batik Di Indonesia
Sejarah
pembatikan di Indonesia berkaitan dengan perkembangan kerajaan majapahit dan
kerajaan sesudahnya. Dalam beberapa catatan, pengembangan batik banyak
dilakukan pada masa-masa kerajaan Mataram, kemudian pada masa kerajaan Solo dan
Yogyakarta. Kesenian batik merupakan kesenian gambar di atas kain untuk pakaian
yang menjadi salah satu kebudayaan keluarga raja-raja Indonesia zaman dahulu.
Awalnya batik dikerjakan hanya terbatas dalam kraton saja dan hasilnya untuk
pakaian raja dan keluarga serta para pengikutnya. Oleh karena banyak dari
pengikut raja yang tinggal di luar kraton, maka kesenian batik ini dibawah oleh
mereka keluar kraton dan dikerjakan ditempatnya masing-masing.
Dalam
perkembangannya lambat laun kesenian batik ini ditiru oleh rakyat terdekat dan
selanjutnya meluas menjadi pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk
mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga
istana, kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari, baik wanita maupun pria.
Bahan kain putih yang dipergunakan waktu itu adalah hasil tenunan sendiri.
Sedangkan bahan-bahan pewarna yang dipakai terdiri dari tumbu-tumbuhan asli
Indonesia yang dibuat sendiri antara lain : pohon mengkudu, soga, nila, dan
bahan sodanya dibuat dari soda abu, serta garamnya dibuat dari tanah lumpur.
Jadi
kerajinan batik di Indonesia telah dikenal sejak zaman kerajaan Majapahit dan
terus berkembang hingga kerajaan berikutnya. Adapun mulai meluasnya kesenian
batik ini menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah
akhir abad ke-XVIII atau awal abad ke-XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya
batik tulis sampai awal abad ke-XX dan batik cap dikenal baru setelah usai
perang dunia kesatu atau sekitar tahun 1920. Kini batik sudah menjadi bagian pakaian tradisional
Indonesia.
D.
Motif Batik Di Indonesia
Ragam
corak dan warna Batik dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing. Awalnya, batik
memiliki ragam corak dan warna yang terbatas, dan beberapa corak hanya boleh di
pakai oleh kalangan tertentu. Namun batik pesisir menyerap berbagai pengaruh
luar, seperti para pedagang asing dan juga para penjajah. Warna-warna cerah
seperti merah dipopulerkan oleh Tionghoa, yang juga mempopulerkan corak phoenix.
Batik tradisional tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam
upacara-upacara adat, karena biasanya masing-masing corak memiliki perlambangan
masing-masing.
Adapun jenis-jenis Batik
Berdasarkan Corak / Motifnya yang ada di Indonesia sampai saat ini adalah
sebagai berikut :
1. Batik Pekalongan
Pasang surut perkembangan batik Pekalongan, memperlihatkan
pekalongan layak menjadi ikon bagi perkembangan batik di Nusantar. Ikon bagi
karya seni yang tak pernah menyerah dengan perkembangan zaman dan selalu
dinamis. Kini batik sudah menjadi nafas kehidupan sehari-hari warga Pekalongan
dan merupakan salah satu produk unggulan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya
industri yang menghasilakan produk batik. Karena terkenal dengan produk
batiknya, Pekalongan dikenal sebagai Kota Batik. Julukan itu datang dari suatu
tradisi yang cukup lama berakar di Pekalongan. Selama periode yang panjang
itulah, aneka sifat, ragam kegunaan, jenis rancangan, serta mutu batik
ditentukan oleh iklim dan keberadaan serat-serat setempat, faktor sejarah
perdagangan dan kesiapan masyarakatnya dalam menerima paham serta pemikiran baru.
Batik Pekalongan termasuk batik pesisir yang paling
kaya akan warna. Sebagaimana ciri khas batik pesisir, ragam hiasnya biasanya
bersifat naturalis. Jika dibandingkan dengan batik pesisir lainnya Batik
Pekalongan ini sangat dipengaruhi pendatang keturunan China dan Belanda. Motif
Batik Pekalongan sangant bebas, dan menarik, meskipun sering kali dimodifikasi
dengan variasi warna yang atraktif. Tak jarang pada sehelai kain batik dijumpai
hingga 8 warna yang berani, dan kombinasi yang dinamis.
Keistimewaan Batik Pekalongan adalah, para pembatiknya
selalu mengikuti perkembangan zaman. Misalnya pada waktu penjajahan jepang,
maka lahir batik dengan nama ” Batik Jawa Hokokai” yaitu batik dengan motif dan
warna yang mirip kimono Jepang. Pada tahun enam puluhan juga diciptakan batik
dengan nama ”Tritura”. Bahkan pada tahun 2005, sesaat setelah presiden SBY
diangkat muncul batik dengan motif ”SBY” yaitu motif batik yang mirip dengan
kain tenun ikat dan songket. Warga Pekalongan tidak perna kehabisan ide untuk
membuat kreasi motif batik.
2. Batik Mega Mendung
Hampir di seluruh wilayah Jawa memiliki kekayaan
budaya batik yang khas. tentu saja ada daerah-daerah yang lebih menonjol
seperti Solo, Yogya, dan Pekalongan. tetapi kekayaan seni batik daerah Cirebon
juga tidak kalah disbanding kota-kota lainnya.
Menurut sejarahnya, di daerah cirebon terdapat
pelabuhan yang ramai disinggahi berbagai pendatang dari dalam maupun luar
negri. Salah satu pendatang yang cukup berpengaruh adalah pendatang dari Cina
yang membawa kepercayaan dan seni dari negerinya.
Dalam Sejarah diterangkan bahwa Sunan Gunung Jati yang mengembangkan ajaran Islam di daerah Cirebon menikah dengan seorang putri Cina Bernama Ong TIe. Istri beliau ini sangat menaruh perhatian pada bidang seni, khususnya keramik. Motif-motif pada keramik yang dibawa dari negeri cina ini akhirnya mempengaruhi motif-motif batik hingga terjadi perpaduan antara kebudayaan Cirebon-Cina.
Salah satu motif yang paling terkenal dari daerah Cirebon adalah batik Mega Mendung atau Awan-awanan. Pada motif ini dapat dilihat baik dalam bentuk maupun warnanya bergaya selera cina.
Motif Mega Mendung melambangkan pembawa hujan yang di nanti-natikan sebagai pembawa kesuburan, dan pemberi kehidupan. Motif ini didominasi dengan warna biru, mulai biru muda hingga biru tua. Warna biru tua menggambarkan awan gelap yang mengandung air hujan, pemberi kehidupan, sedangkan warna biru muda melambangkan semakin cerahnya kehidupan.
3. Batik motif Truntum
Boleh dibilang motif Truntum merupakan simbol dari
cinta yang bersemi kembali. Menurut kisahnya, motif ini diciptakan oleh seorang
Ratu Keraton Yogyakarta.
Sang Ratu yang selama ini dicintai dan dimanja oleh
Raja, merasa dilupakan oleh Raja yang telah mempunyai kekasih baru. Untuk
mengisi waktu dan menghilangkan kesedihan, Ratu pun mulai membatik. Secara
tidak sadar ratu membuat motif berbentuk bintang-bintang di langit yang kelam,
yang selama ini menemaninya dalam kesendirian. Ketekunan Ratu dalam membatik
menarik perhatian Raja yang kemudian mulai mendekati Ratu untuk melihat
pembatikannya. Sejak itu Raja selalu memantau perkembangan pembatikan Sang
Ratu, sedikit demi sedikit kasih sayang Raja terhadap Ratu tumbuh kembali.
Berkat motif ini cinta raja bersemi kembali atau tum-tum kembali,
sehingga motif ini diberi nama Truntum, sebagai lambang cinta Raja yang bersemi
kembali.
4. Batik Jlamprang
Motif – motif Jlamprang atau di Yogyakarta dengan nama
Nitik adalah salah satu batik yang cukup popular diproduksi di daerah Krapyak
Pekalongan. Batik ini merupakan pengembangan dari motif kain Potola dari India
yang berbentuk geometris kadang berbentuk bintang atau mata angin dan
menggunakan ranting yang ujungnya berbentuk segi empat. Batik Jlamprang ini
diabadikan menjadi salah satu jalan di Pekalongan.
5. Batik Pengantin
Setiap motif pada batik tradisional klasik selalu
memiliki filosofi tersendiri. Pada motif Batik, Khususnya dari daerah jawa
tengah, terutama Solo dan Yogya, setiap gambar memiliki makna. Hal ini ada
hubungannya dengan arti atau makna filosofis dalam kebudayaan Hindu-Jawa. Pada
motif tertentu ada yang dianggap sakral dan hanya dapat dipakai pada kesempatan
atau peristiwa tertentu, diantaranya pada upacara perkawinan.
Motif Sido-Mukti biasanya dipakai oleh
pengantin pria dan wanita pada acara perkawinan, dinamakan juga sebagai Sawitan
(sepasang). Sido berarti terus menerus atau menjadi dan mukti
berarti hidup dalam berkecukupan dan kebahagiaan. jadi dapat disimpulkan motif
ini melambangka harapan akan masa depan yang baik, penuh kebahagiaan unuk kedua
mempelai. Selain Sido Mukti terdapat pula motif Sido Asih yang
maknanya hidup dalam kasih sayang. Masih ada lagi motif Sido Mulyo yang
berarti hidup dalam kemuliana dan Sido Luhur yang berarti dalam hidup
selalu berbudi luhur.
Ada pula motif yang bukan sawitan kembar,
tetapi biasanya dipakai pasangan pengantin yaiu motif Ratu Ratih
berpasangan dengan Semen Rama, yang melambangkan kesetiaan seorang istri
kepada suaminya. Sebenarnya masih banyak lagi motif yang biasa dipakai pasangan
pengantin, semuanya diciptakan dengan melambangkan harapan, pesan, niat dan
itikad baik kepada pasangan pengantin. Pada Upacara Perkawinan Orang tua
pengantin biasanya memakai motif Truntum
yang dapat pula berarti menuntun, yang maknanya menuntun kedua mempelai dalam
memasuki liku-liku kehidupan baru yaitu berumah tangga.
Dikenal juga motif Sido Wirasat, wirasat
berarti nasehat, dan pada motif ini selalu terdapat kombinasi motif truntum di
dalamnya, yang melambangkan orangtua akan selalu memberi nasehat dan menuntun
kedua mempelai dalam memasuki kehidupan berumahtangga.
6. Batik Tiga Negeri
Kerumitan membuat sepotong batik tulis ternyata masih
belum cukup jika kita tahu sejarah motif Batik Ttiga Negeri. Motif Batik Tiga
Negeri merupakan gabungan batik khas Lasem, Pekalongan dan Solo, pada jaman
kolonial wilayah memiliki otonomi sendiri dan disebut negeri. Mungkin kalau
hanya perpaduan motifnya yang khas masing-masing daerah masih wajar dan biasa,
tetapi yang membuat batik ini memiliki nilai seni tinggi adalah prosesnya.
Konon menurut para pembatik, air disetiap daerah memiliki pengaruh besar terhadap
pewarnaan, dan ini masuk akal karena kandungan mineral air tanah berbeda
menurut letak geografisnya. Maka dibuatlah batik ini di masing-masing daerah.
Pertama, kain batik ini dibuat di Lasem dengan warna merah yang khas, seperti
merah darah, setelah itu kain batik tersebut dibawa ke Pekalongan dan dibatik
dengan warna biru, dan terakhir kain diwarna coklat sogan yang khas di kota
Solo.
Mengingat sarana transportasi pada zaman itu tidak
sebaik sekarang, maka kain Batik Tiga Negeri ini dapat dikatakan sebagai salah
satu masterpiece batik.
7.
Batik Pagi Sore
Desain batik pagi sore mulai ada pada jaman penjajahan
Jepang. Pada waktu itu karena sulitnya hidup, untuk penghematan, pembatik
membuat kain batik pagi sore. Satu kain batik dibuat dengan dua desain motif
yang berbeda. Sehingga jika pada pagi hari kita menggunakan sisi motif yang
satu, maka sore harinya kita dapat mengenakan motif yg berbeda dari sisi kain
yang lainnya,jadi terkesan kita memakai 2 kain yang berbeda padahal hanya 1
lembar kain.
Tentu saja sekarang jarang sekali orang yang memakai
kain kebaya (jarik) untuk sehari-hari, tetapi motif pagi/sore masih banyak di
buat pada produk batik lainnya. Biasanya kain sutra ada yang dibuat 2 motif
pada satu lembar kain jadi dapat dibuat dua baju, ada pula scarf yang biasa
dipakai untuk jilbab, dibuat setengah polos dan setengah motif. Batik pagi sore
memang alternatif untuk memiliki ragam batik dengan biaya terbatas.
E. JENIS-JENIS BATIK
Jenis-jenis
Batik Berdasarkan Tekniknya adalah sebagai berikut :
1.
Batik
Tulis adalah kain yang
dihias dengan teksture dan corak batik menggunakan tangan. Pembuatan batik
jenis ini memakan waktu kurang lebih 2-3 bulan.
2.
Batik
Cap adalah kain yang
dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan cap ( biasanya
terbuat dari tembaga). Proses pembuatan batik jenis ini membutuhkan waktu
kurang lebih 2-3 hari.
3.
Batik Lukis adalah proses
pembuatan batik dengan cara langsung melukis pada kain putih.
F. Cara Membuat Batik
1. Batik Tulis
Mari
bersama kita melestarikan budaya batik dan kesenian Bangsa dengan mengetahui
cara pembuatan batik tulis. Alat dan bahan yang harus disiapkan adalah sebagai
berikut:
·
Kain
(bisa terbuat dari sutra atau
katun)
·
Canting (adalah alat untuk membatik. Biasanya
terbuat dari bahan tembaga yang ujungnya menyerupai paruh burung).
·
Gawangan (adalah tempat untuk meletakkan kain yang
akan dibatik. Gawangan dapat terbuat dari kayu atau bambu).
·
Lilin/malam (terbuat dari campuran berbagai jenis
bahan yang berupa gondorukem, lemak minyak kelapa, dan parafin).
·
Wajan (berupa wajan kecil untuk mencairkan malam atau lilin.
Wajan ini bisa terbuat dari tembaga atau tanah lia)t.
·
Panci dan kompor kecil (digunakan untuk memanaskan wajan).
·
Larutan pewarna (biasa juga disebut sebagai wedel atau
tom).
a)
Siapkan kain, buat motif diatas kain
dengan menggunakan pensil.
b)
Setelah motif selesai dibuat, sampirkan
kain pada gawangan.
c)
Nyalakan kompor/anglo. Taruh malam/lilin
ke dalam wajan dan panaskan wajan dengan api kecil sampai malam mencair
sempurna. Biarkan api tetap menyala kecil.
d)
Mulailah membatik dengan cara ambil sedikit
malam cair dengan menggunakan canting, tiup-tiup sebentar biar tidak terlalu
panas, kemudian goreskan canting dengan mengikuti motif yang telah ada.
Hati-hati jangan sampai malam yang cair menetes diatas permukaan kain karena
akan mempengarufi hasil motif batik.
e)
Setelah semua motif tertutup malam, maka
proses selanjutnya adalah proses pewarnaan.
f)
Siapkan bahan pewarna di dalam ember,
kemudian celupkan kainnya ke dalam larutan pewarna dengan menggunakan kuas,
ulangi sampai beberapa kali.
g)
Tahap selanjutnya adalah proses
penghilangan lilin batik dengan cara pengerakan dan melarod.
h)
Tahap terakhir dari proses pembuatan batik
ini adalah proses pencucian dan penjemuran.
2. Batik Cap
Kain yang dihias dengan teksture dan corak batik yang dibentuk dengan cap
yang terbuat dari tembaga. Pembuatan batik ini hanya memakan waktu kurang lebih
2-3 hari. Alat dan bahan yang harus disiapkan adalah sebagai berikut:
·
Cap
·
Meja
·
Lilin malam
·
Pewarna
Cara pembuatan :
·
Kain mori diletakkan di atas meja dengan
alas dibawahnya menggunakan bahan yang empuk.
·
Malam direbus hingga suhu 60 – 70 derajat
Celsius.
·
Cap dicelupkan ke malam yang telah mencair
tadi tetapi hanya 2cm saja dari bagian bawah cap.
·
Kemudian kain mori di cap dengan tekanan
yang cukup supaya rapih. Pada proses ini, cairan malam akan meresap ke dalam
pori-pori kain mori.
·
Selanjutnya adalah proses pewarnaan dengan
cara mencelupkan kain mori yang sudah di cap tadi ke dalam tangki yang berisi
cairan pewarna.
·
Kain mori direbus supaya cairan malam yang
menempel hilang dari kain.
·
Proses
pengecapan>pewarnaan>penggodogan diulangi kembali jika ingin diberikan
kombinasi beberapa warna.
·
Setelah itu, proses pembersihan dan
pencerahan warna dengan menggunakan soda.
·
Penjemuran kemudian disetrika supaya
rapih.
3. Batik Lukis
Proses pembuatan batik dengan cara langsung melukis pada kain putih.
Pembuatan batik ini hanya memakan waktu
kurang lebih 2-3 hari. Alat dan bahan yang harus disiapkan adalah sebagai berikut:
·
Kain mori
·
Lilin malam
·
Canting
·
Pewarna
·
Pisau tumpul
·
Koran bekas
·
Tisu
·
Setrika listrik
Cara Pembuatan :
·
Siapkan selembar kain mori.
·
Buatlah gambar pola pada kain tersebut
sesuai kreasimu sendiri,
·
Tebali pola dengan cairan lilin malam yang
telah dipanaskan. Gunakan ukuran canting yang sesuai pola. Kalian bisa
menggunakan canting biasa (tradisional) boleh pula menggunakan kuas untuk
mendapatkan karakter yang pas.
·
Berilah warna dengan menggunakan teknik
celup atau coletan setelah lilin pada kain mori mengering.
·
Setelah pewarnaan selesai keringkan dengan
cara diangin-anginkan.
·
Keroklah lilin pada kain mori dengan pisau
tumpul agar mori tidak rusak. pada proses ini tentu hasilnya belum
benar-benar bersih lilinnya, maka lakukan dengan cara di seterika agar
benar-benar bersih.
Cara yang digunakan
untuk menghilangkan lilin dengan seterika adalah sebagai berikut :
·
Kain batik yang sudah dicelup warna dan
siap dilepaskan sebaiknya lilinnya dibiarkan dalam keadaan kering.
·
Siapkan alat sejenis pisau tumpul, kemudian
keroklah bagian lilin yang tebal yang menempel pada kain batik dengan alat ini
sehingga sebagaian besar lilin terlepas dari kain.
·
Siapkan beberapa kertas koran bekas,
kertas tisu dan seterika listrik.
·
Letakkan kain batik di atas kertas koran
sebagai landasan, kemudian letakkan lembaran kertas tisu pada bagian lilin yang
akan dibersihkan . Tutup bagian atas kertas tisu dengan kertas koran kemudian
seterikalah seperti ketika menyeterika pakaian.
·
Dengan diseterika maka lilin akan meleleh
karena panas. Lilin yang sudah meleleh tersebut akan menempel pada kertas tisu.
Ulangilah pekerjaan ini sampai lilin bersih.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang bisa kita ambil dari banyak kasus
klaim kebudayaan Indonesia dan penghargaan dari UNESCO adalah bahwa bangsa yang
dihargai adalah bangsa yang memelihara budayanya, bukan sebagai yang
menciptakan pertama kalinya.
AKHIRNYA dunia mengakui batik merupakan salah satu
warisan umat manusia yang dihasilkan oleh bangsa Indonesia. Pengakuan serta penghargaan itu akan disampaikan secara resmi oleh United
Nations Educational, Scientific, and Culture Organization (UNESCO). Pengakuan
dilakukan pada 28 September 2009 dan penghargaan resmi pada hari ini (2
Oktober) di Abu Dhabi.
Pengakuan
UNESCO itu diberikan terutama karena penilaian terhadap keragaman motif batik
yang penuh makna filosofi mendalam. Penghargaan itu juga diberikan karena
pemerintah dan rakyat Indonesia juga dinilai telah melakukan berbagai langkah
nyata untuk melindungi dan melestarikan warisan budaya itu secara
turun-menurun.
Sebagai
bentuk apresiasi terhadap Batik Indonesia, Presiden SBY meminta kepada seluruh
warga negara Indonesia untuk memulai memakai batik pada hari ini. Semoga ini
menjadi awal yang baik, untuk selalu nguri-uri kebudayaan Indonesia. Tidak ada
kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baik.
Setelah
proses pengakuan ini apa yang harus dilakukan oleh masyarakat dan bangsa
Indonesia selaku pemilik sah batik? Apakah akan membiarkannya begitu saja? Ada
banyak cara yang bisa kita lakukan sekaligus mempromosikan batik secara
kontinyu, dengan memakai batik sebagai busana kita sehari-hari. Disamping untuk
menghidupkan industri batik secara tidak langsung, kita ikut menjaga kebudayaan
Indonesia.
b. Saran
Agar
warna batik berbahan sutra dan serat tidak cepat pudar, awet dan tetap tampak
indah. Mencuci kain batik dengan menggunakan shampo rambut. Sebelumnya,
larutkan dulu shampo hingga tak ada lagi bagian yang mengental. Setelah itu
baru kain batik dicelupkan.
Anda
juga bisa menggunakan sabun pencuci khusus untuk kain batik yang dijual di
pasaran. Pada saat mencuci batik jangan digosok. Jangan pakai deterjen. Kalau
batik tidak kotor cukup dicuci dengan air hangat. Sedangkan, kalau kotor,
misalnya terkena noda makanan, bisa dihilangkan dengan sabun mandi atau bila
kotor sekali, seperti terkena buangan knalpot, noda bisa dihilangkan dengan
kulit jeruk dengan mengusapkan sabun atau kulit jeruk pada bagian yang kotor.
Sebaiknya
Anda juga tidak menjemur kain batik di bawah sinar matahari langsung (tempat
teduh). Kain batik jangan dicuci dengan menggunakan mesin cuci. Tak perlu
memeras kain batik sebelum menjemurnya. Namun, pada saat menjemur, bagian tepi
kain agak ditarik pelan-pelan supaya serat yang terlipat kembali seperti
semula.
Sebaiknya
hindari penyeterikaan. Kalaupun terlalu kusut, semprotkan air di atas kain
kemudian letakkan sebuah alas kain di bagian atas batik itu baru diseterika. Jadi, yang diseterika adalah kain lain yang ditaruh di
atas kain batik.
Disarankan untuk
menyimpan batik dalam plastik agar tidak dimakan ngengat. Jangan diberi kapur
barus, karena zat padat ini terlalu keras sehingga bisa merusak batik.
Sebaiknya, almari tempat menyimpan batik diberi merica yang dibungkus dengan
tisu untuk mengusir ngengat. Alternatif lain menggunakan akar wangi yang
sebelumnya dicelup dulu ke dalam air panas, kemudian dijemur, lalu dicelup
sekali lagi ke dalam air panas dan dijemur. Setelah akar wangi kering, baru
digunakan.
Anda sebaiknya juga tidak menyemprotkan parfum atau
minyak wangi langsung ke kain atau pakaian berbahan batik sutera berpewarna
alami.
Bila Anda ingin memberi pewangi dan pelembut kain pada batik tulis, jangan disemprotkan langsung pada kainnya. Sebelumnya, tutupi dulu kain dengan koran, baru semprotkan cairan pewangi dan pelembut kain.
C. Kritik
Demikian makalah ini kami buat sebagai tugas dari mata
kuliah ”Kebudayaan Indonesia”. Kami sadar masih banyak sekali kekurangan
dalam pembuatan makalah ini. Untuk itu saran dan kritik yang membangun dapat
disampaikan kepada kami. Terima kasih.
Daftar Pustaka
ü Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat. Komunikasi
Antarbudaya:Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya.
2006. Bandung:Remaja Rosdakarya.
ü Wilson, Edward O. (1998). Consilience: The Unity of Knowledge. Vintage: New York. ISBN 978-0-679-76867-8.
ü diyank.blogspot.com%2F2010%2F12%2Fv-behaviorurldefaultvmlo.html&ei=x5o5UK7FNIbtrAeU_ICYDw&usg=AFQjCNHyfQyN7DAjGaVO9Eebb-KjyJRtzw
ü http://bahul68.blogspot.com/2013/05/makalah-membatik_7605.html?m=1
ü www.wikipedia.com
ü www.google.com
ü www.yahoo.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar